Jumat, 27 Maret 2015

KISAH MALALA YOUSAFZAI

Malala Yousafzai, remaja 16 tahun yang ditembak di kepalanya oleh anggota Taliban beberapa bulan yang lalu, telah memberikan pidato di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ini adalah pidato pertamanya di hadapan masyarakat umum sejak peristiwa penembakan tersebut, dan dia mengatakan tidak akan diam menghadapi teroris.
Seorang anggota Taliban menembakkan peluru ke kepalanya ketika sedang berada di bis karena menuntut pendidikan untuk anak perempuan di Lembah Swat di Pakistan.


Malala Yousafzai mendapatkan sambutan bergemuruh berkali-kali ketika berbicara di hadapan Majelis Pemuda Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat.
Dia memberi pidato tersebut di hadapan hampir seribu pelajar dari seluruh dunia, dan pidatonya mendapat pujian.
Malala Yousafzai mengatakan serangan atas dirinya tidak mengubah semangatnya untuk membela pendidikan bagi anak perempuan.
"Mari kita angkat buku dan pena kita, mereka adalah senjata yang terkuat," katanya.
"Satu orang anak, satu orang guru ... bisa mengubah dunia."
Dengan mengenakan jilbab berwarna merah muda dan syal yang dimiliki oleh pemimpin Pakistan yang terbunuh, Benazir Bhutto, Malala mengatakan dia tidak ingin melakukan tindakan balas dendam atas lelaki yang menembaknya.

"Pendidikan adalah satu-satunya solusi.
"Mereka menembak teman-teman saya juga. Mereka kira peluru akan membungkam kita. Tapi mereka gagal dan dari kebungkaman, kini muncul ribuan suara.
"Para teroris berpikir mereka bisa mengubah tujuan dan ambisi saya, tapi tidak ada yang berubah dalam hidup saya kecuali ini: kelemahan, rasa takut dan rasa putus asa telah mati.
"Saya tidak membenci anggota Taliban yang menembak saya. Bahkan kalau ada senjata di tangan saya dan dia ada di hadapan saya sekarang, saya tidak akan menembaknya."
Malala Yousafzai kini telah menjadi bintang global dan menjadi kandidat untuk hadiah Nobel untuk Perdamaian.
Dia telah dinobatkan sebagai salah satu orang paling berpengaruh pada tahun 2013 oleh majalah Time dan dikabarkan mendapat kontrak senilai 3 juta dolar AS untuk sebuah buku mengenai dirinya, tapi Taliban telah jelas mengatakan dia tetap menjadi sasaran.

Pendidikan Global

Malala Yousafzai memberikan sebuah petisi yang telah ditanda tangani oleh empat juta orang untuk mendukung 57 juta anak-anak di seluruh dunia yang tidak bisa bersekolah kepada sekjen PBB, Ban Ki-moon.
Petisi tersebut memyerukan pemimpin dunia untuk mendanai guru-guru, buku dan sekolah selain mengakhiri perburuhan anak, pernikahan terlalu muda dan penyelundupan anak.
Ban Ki-moon mengatakan PBB memiliki komitmen untuk memberikan kesempatan bersekolah bagi semua anak-anak pada akhir 2015.
"Tidak boleh ada lagi guru yang takut untuk mengajar dan anak-anak takut belajar. Bersama, kita akan mengubah ini.


Referensi :  Radio Australia

Selasa, 24 Maret 2015

ILMU ADALAH HIDAYAH


Tanpa ilmu manusia hanyalah bagaikan hewan, itu pepatah yang sudah tidak asing di benak kita. Ilmu bukan barang antik yang di lelang dan diperjual belikan, bukan emas berkarat yang mahal harganya, dan bukan juga Harta berharga untuk hidup di dunia. Lebih dari itu semua, Ilmu adalah Hidayah dan Petunjuk manusia untuk menjalani hidup. Sejak Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama, terlihat jelas keutamaan Ilmu sangat di junjung tinggi oleh agama Islam. Turunnya wahyu pertama yang merupakan awal mula Al Qur’an dimulai dengan bacaan “اقرأ” yang artinya “bacalah” yaitu perintah Allah kepada Nabi untuk membaca apa yang telah diturunkan kepadanya dengan menyebut nama-Nya. Turunnya kalimat pertama dari surat Al Alaq ini menjelaskan keutamaan membaca dan menelaah ilmu yang mana dengan itu manusia bisa hidup utuh sebagai seorang manusia. Pada ayat selanjutnya disebutkan bahwasanya perintah untuk “membaca” ini datang dari Sang Maha Pencipta yang menciptakan Manusia dari segumpal darah, maka sungguh sangat mulia derajat Ilmu bagi peradaban umat Manusia.

Allah mengajarkan banyak hal kepada Umat manusia dengan Al Qur’an, asal kata dari “Al Qur’an” sendiri diambil dari kata “qa ra a” yang perarti bacaan, bacaan yang harus dibaca, ditelaah, diresapi, dan diamalkan. Banyak disiplin ilmu yang ditemukan manusia pada era modern sudah tertulis di dalam Al Qur’an. Maka tidak heran apabila banyak Ilmuwan yang benar-benar mempelajari secara detail ilmu yang dia pelajari, secara perlahan sadar dan masuk Islam karena dia menyadari ilmu yang dipelajarinya adalah satu dari sekian banyak ilmu yang diberikan Allah kepada Manusia dan Allah telah mengangkat derajatnya dengan ilmu yang dia miliki dengan menjadi Ilmuwan yang mampu mengamalkan ilmunya untuk menjadi manfaat bagi umat Manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’aala berfirman :
(Q.S. Al- Mujadalah : 11 ) ‏يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَات
artinya : Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu, beberapa derajat.

Didalam Ayat ini diterangkan bahwasanya Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi Ilmu, yang dimaksud diberi Ilmu disini adalah orang-orang yang menuntut ilmu dengan niat yang tulus dan Ikhlas dalam memperjuangkannya. Seperti yang telah diketahui bahwa Ulama-ulama Islam terdahulu yang mengabdikan dirinya kepada ilmu telah diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’aala dengan menjadikannya ‘Ibrah atau pelajaran kepada manusia tentang mulianya ilmu, sangat banyak buku-buku para Ulama Islam yang menjadi rujukan berbagai disiplin ilmu. Keberkahan ilmu akan selalu dirasakan oleh orang-orang yang secara Ikhlas mengabdikan dirinya kepada ilmu, karena sesungguhnya nikmat ilmu tidak bisa hanya dirasakan oleh perseorangan saja, nikmat ilmu adalah nikmat berbagi dan mengamalkan. Imam Syafi’i berkata bahwasanya Ilmu adalah cahaya Allah yang tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya. Ilmu adalah cahaya yang menerangi, bagaikan lentera yang menerangi manusia dari kegelapan, apabila tiada pengamalan dalam ilmu maka bagaikan lentera yang tertutup dan yang tersisa hanya bayangan.

Maka konsekuensi terbesar dalam ilmu ada dua, yang pertama adalah pengamalan baik secara vertikal ataupun horizontal, pengamalan secara vertikal yaitu pertanggungjawaban ilmu kepada GURU besar ilmu dan kehidupan, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’aala, dan pengamalan secara horizontal yaitu penumpasan kebodohan umat dengan ilmu yang telah dipelajari seorang manusia dalam hidupnya kapanpun, dimanapun, dan siapapun dia. Konsekuensi kedua adalah tidak sombong dengan ilmu, sombong dengan ilmu hanya akan menghapus derajat manusia di hadapan Allah dan menjadikan dirinya hina dan binasa karena dia tidak pernah mengenal dirinya dan siapa yang memberikannya ilmu, karena ketika seseorang semakin banyak mempelajari ilmu maka dia semakin mengenal siapa dirinya dan siapa GURU Utamanya. Bukankah Allah GURU Utama kita..? 

Pada hakikatnya sebanyak apapun ILMU yang kita dapatkan, takkan bisa menandingi luasnya Samudera ILMU ALLAH ..

Referensi : King Saudi University.