body{ user-select: none; -webkit-user-select: none; -moz-user-select: none; -ms-user-select: none; -khtml-user-select: none; }

Jumat, 24 April 2015

RADIKALISME DAN DOKTRIN AGAMA

Masih teringat jelas beberapa kejadian kekerasan yang terjadi di negeri kita, beberapa bulan yang lalu, seperti kasus penyerangan warga masyarakat Solo oleh sekelompok orang tertentu, bahkan yang terakhir adalah pembubaran diskusi ilmiah Irsyad Manji di Jakarta, sungguh tragis bila kita membaca berita-berita tersebut.
Beberapa kejadian tersebut patut kita pertanyakan kembali, kita hidup di Negara pancasila, yang menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika, memiliki kebudayaan, suku dan agama yang berbeda-beda. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah layakkah kita disebut sebagai Negara pancasila yang mengakui kebebasan setiap warganya?
Kita semua tahu bahwa aksi kekerasan jauh lebih menakutkan, lebih mengerikan lagi adalah ideologi radikal yang diakui oleh sebagian kelompok tertentu terhadap suatu kebenaran yang obsolute bernama agama. Bahkan para pelaku teror tanpa segan-segan menyebut agama melegitimasi  tindakan kekerasan yang mereka lakukan.
Para pelaku memiliki ideologi tertentu yang bagi mereka berhak untuk diperjuangkan. Namun bukan hanya untuk dirinya atau kelompoknya melainkan untuk sesuatu yang diyakininya. Kesalahan atas pemahaman teks-teks agama yang kaku dan konservatif memang bukan hal yang baru lagi. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana gerakan radikalisme (pro kekerasan) berubah menjadi gerakan yang berorientasi pada semangat agama yang membebaskan dan berdasar pada nilai-nilai humanisme ini yang perlu kita perjuangkan.
Agama Islam yang mempunyai pemahaman rahmatan lil’alamin, harus dikembangkan dalam kehidupan bersama. Siapa pun orangnya harus dilihat dari unsur kemanusiaan tanpa peduli latarbelakang agama dan bangsanya. Jadi, pada tataran ini tak perlu diperdebatkan rujukan agama, karena ajaran agama manapun dalam relasi kemanusiaan, pasti memuliakan dan menghormati manusia.
Islam yang berarti damai (peace) dan selamat (salvated) harus mampu diaplikasikan ke dalam kehidupan beragama. Islam tidak mendorong umatnya untuk melakukan kekerasan di muka bumi. Memahami Islam secara legal-formal dan normative serta berada di awang-awang, takkan sesuai jika disandingkan dengan kehidupan dunia yang serba plural.
Pluralitas manusia dan perbedaan adalah nikmat dan bukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai sebuah penghalang dan berbahaya. Perbedaan harus dilihat sebagai ujian untuk mempertebal keyakinan diri tanpa harus melanggar batas-batas yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Termasuk di dalamnya, baik menghakimi tersesat atau tidaknya seseorang, karena itu semua bukan berada di tangan manusia melainkan di tangan-Nya.
Dimensi kemanusiaan dari agama-agama menjadi terpenting untuk diupayakan dan disebarluaskan oleh umat beragama, agar gairah saling menghormati, toleransi, hidup damai, harmonis dan ramah menjadi bagian yang terpenting dalam kehidupan sosial beragama.
Disinilah tantangan dan tanggung jawab untuk menjadi makhluk yang sempurna diuji. Kita harus mampu hidup damai dan bekerjasama dengan pihak lain guna kepentingan bersama tanpa mengorbankan kebenaran agama.